AKU BUTUH HATI


wpid-20100503_nike_hol10_bmx_0763-960x638Di sini, di luar, di teras kamar, aku masih belajar memahami diriku sendiri. Memahami simiotika dan gejolak kehidupan. Memahami setiap rasa dan logika yang dititipkan pada diri ini. Menumpahkan deretan kalimat di atas tombol-tombol maya.

Remang-remang cahaya yang terpantul dari balik jendela, menciptakan bayangan diriku yang lagi asyik menggerakan jemari. Bercerita pada gelap malam, juga pada bulan.

Aku layaknya perahu tua, yang siap lapuk tertelan waktu, termakan usia. Banyak dermaga pernah ku singgahi. Tapi itu dulu. Setelah satu persatu kutinggali, aku hanya punya satu. Namun, seiring bergulirnya roda waktu, dermaga yang pernah ku puja, koyak, roboh, terhempas oleh badai romantika.

Kini, aku hanya butuh satu. Hati! Aku tak punya hati seluas samudera, tak sebening embun, tak seindah bintang yang selalu siap mewarnai pekatnya malam.

Kadang, cemas merajai jiwa. Cemas dengan umur yang semakin menua, detak jantung yang semakin menghampiri maut. Cemas dengan ajal dan kematian yang tiba secara diam-diam. Bukan hanya cemas, bosan pun selalu menyapa, saat pagi belumlah lebar mengepakan sayapnya. Di kala aku terbangun dari tidur, hanya ada buku-buku yang berserakan, seolah memancarkan wajah bosan melihat aku sendirian. Dan aku pun bosan. Serbah bosan.

Aku butuh HATI. Apa kau sudah siap menjadi dermaga yang siap lapuk bersama perahu yang suda hampir lapuk? Menjadi dermaga terakhir dari perjalanan panjangku. Sedang waktuku sudah tidak lama lagi di sini, di kota ini. Petualanganku belum berakhir. Aku masih punya cita-cita yang pernah ku ceritakan di malam itu. Apa kau rela dengan dinding jarak dan sekat waktu yang akan menjadi tirai penghalang? Dengan telepon seluler kita akan membunuh rindu.

Aku belum bisa menebak. Dan aku pun tak mau menebak,siapa yang akan menjadi mitraku di sisa nafas ini. Kita hanya bisa mengatupkan tangan, berharap pada pemilik hati, bahwa semuanya akan indah pada waktunya. Jika nanti harapan tak sejalan dengan realitas, kita tak bisa membantah, apa lagi menghujat dan mengutuk-ngutuk diri sendiri. Bukan berarti Dia menutup mata dan telinga-Nya, namun itu sudah menjadi sebuah rencana dan keputusan atas hidup kita masing-masing. Entalah, ending dari cerita ini seperti apa, aku tak pernah benar-benar tahu. Hanya Dia yang menggenggam nyawa dan mengatur gerak langka kita yang tahu. Aku tak ingin merampas peran-Nya sebagai sutradara kehidupan dalam menata puzzle hati setiap insan manusia. Biarlah mengalir seperti air adanya.

Iklan

CATATAN SANG PENGEMIS


kjhjAdakah kita ingin memberi sebagian dari apa yang kita punya sesuai dengan apa yang kita bisa? Dunia sudah terlalu congkak dengan segalah rezeki yang dimiliki. Selau ingin menikmati sendiri apa yang mereka miliki, yang sebetulnya kita hidup untuk berbagi. Bahkan, ada lagi yang ingin menikmati apa yang sebenarnya bukan miliknya. Serakah.
Memberi bukan untuk dipamer agar terlihat sebagai sosok manusia yang peduli. Bukan untuk mengharap imbalan. Bukan pula mencari sensasi agar kau terlihat merakyat, layaknya seorang politikus instan, lebih tepatnya politikus dadakan, yang lagi menggenjot popularitas dan elektabilitas untuk menggamit nurani rakyat. Memberi bukan untuk itu, bung!!!
Memberi dengan ikhlas, memberikan hak mereka. Hak kami yang telah kami tanam melalui kewajiban dalam keikutsertaan kami dalam bernegara. Pajak kami kumpulkan untuk negeri. Negeri adalah kami, maka aku dan dia memiliki hak untuk mendapatkan itu.
Kami bukan orang-orang malas, tapi kami malu jadi petani yang tidak memiliki sebidang tanah untuk menanam. Tanah kami telah digusur untuk membangun gedung-gedung tinggi menjulang langit dengan seribuh kemewahan yang ada di dalamnya. Bukannya kami mengganggap kami adalah seekor anjing yang hanya mengais sisa makanan di bawah tumpukan sampah, tapi kami mungkin lebih dari seeokor anjing yang tak tahu kapan dia mati berkalang tanah, jika kami tak jadi seperti itu. Kami bukanlah anak durhaka yang lari dari rumah meninggalkan ibu, tapi karena kami hidup seorang diri. Rumah kami digusur untuk kepentingan kaum-kaum terhormat. Ayah dan ibu kami, sudah lama terbaring dalam hitam, saat rumah sakit hanya milik orang-orang berduit. Lalu, aku mau bertanya, demokrasi macam apa yang kita inginkan? Dari Rakyat-Oleh Rakyat- Untuk Rakyat, hanya terbaring di atas baranda ilusi.
Kita ramai-ramai berteriak ‘ayo kerja’. Kami pun bingung di bawah emperan tokoh, saling bertanya satu sama lain. Kita kerja apa, sedang masih banyak sarjana nganggur? Siapa yang menjawab? Pasrah juga sebuah pilihan, kami memilih untuk meminta. Agar dunia tahu bahwa kita belum merdeka.
Merdeka bukan cuma untuk mengenang, mengenenang mereka yang pantas dikenang. Tapi untuk bertanya bahwa merdeka yang bagaimana? Jika kami tak ada di sini, maka kita tak dapat menemukan makna merdeka yang sesungguhnya. Barangkali, kami telah diseting oleh Sang Pemberi hidup, sehingga kita dapat memahami hakikat dari kata MERDEKA.
Kita kembali pada memberi. Memberi untuk kebahagiaan. Bahagia bukan karena mendapatkan harta yang banyak, namun memberi dari apa yang kita miliki itulah kebahagiaan hakiki. Aku tidak sedang memaksamu untuk berbagi. Tapi karena, Tuan kita lagi sibuk membagi. Membagi polemik untuk kita kecapi bersama.
Katanya, kita satu di bawah panji Bhinneka Tunggal Ika. Kemudian kita didoktrin untuk menyeruhkannya agar sama-sama bersatu menghadapi krisisis keuangan. Bersatu menerima hegemoni bahwa negeri ini adalah kacung atau pelayan bagi mereka di barat sana. Mereka orang-orang yang hanya menutup mata akan sisi gelap keadaan negeri kita saat ini, membutakan mata mereka dengan anggapan egois bahwa si kaya dan si miskin dapat bersatu, si kuat dan si lemah dapat saling membantu, si pintar dan si bodoh dapat saling menguntungkan. Mereka dengan sengaja menyebar selogan bahwa kita adalah bangsa yang besar. Pada kenyataannya, si kaya semakin membuat si miskin tersisihkan dan duduk santai di atas singgasana emasnya, menikmati rupiah yang terus tercetak tiap detiknya. Si kuat semakin tertawa di atas ketidakberdayaan si lemah menghadapi dunia yang pelik ini. Si pintar tenggelam dalam ilmu pengetahuan yang memabukkan. Sementara si bodoh terus terpuruk dalam kebodohannya. Tak perlu kita menyangkal bahwa saat ini yang menikmati kekayaan bangsa ini hanyalah si kaya yang kuat dan pintar. Sementara yang lain, aku dan kita orang-orang yang kita sebut “pengemis kebahagiaan”.

DIA VS KOPI


Minum KopiAku masih di sini, menghabiskan malam tanpa ada riuh suara, tanpa ada bising mesin, tanpa ada deringx nada ponsel yang sering memecah pekatnya mlam. Hanya ada aku dan penat. Entahlah dimana damai itu bersembunyi. Hanya ada mimpi terhampar di atas altar ilusi.

Aku mengajak jemari berdansa di atas tombol” maya di penghujung waktu hanya sekedar menggores sehelai untain elegi jiwa bernada ceracau. Tentang gelisa yang kembali terkuak dari dasar lapisan jiwa terdalam. Ada apa gerangan???

Kucoba menerawang ke arah langit, namun yang kudapat hanyalah hitam, layaknya kopi yang sedang kuseduh. Ya, hitam seperti kopi. Di balik hitamnya kopi, manis yang kunikmati.

Lalu, kau yang hitam yang selalu disebut manis itu, masihkah ada setitik rasa yang tersisa? Ataukah telah sirna, tenggelam dalam derasnya laju zaman yang tak lagi berirama merdu?

Rasanya sangatlah sulit untuk menemukan jawaban final dari beribu tanya yang sedang bergelayut dalam sebuah kesangsian. Mungkinkah aku harus belajar untuk menebak?

Kini, aku hanya bisa berspekulasi tentang dasar dari setiap gejolak yang pernah ada. Tentang makna di balik takdir-Nya. Tentang hitam yang pernah memanjakan tenggorokaku. Tentang hitam yang pernah kupuja, yang kini bagai memuja bayang. Ya, hanya ada bayang yang bertengger dalam nelangsa hayal.

Adakah dari kalian ingin bersama denganku, memecahkan teka-teki puzzle itu? Bagiku, itu layaknya puzzel yg perlu disusun kembali. Mencari jawaban yang pasti. Biar legah pun kembali bersarang di hati, tanpa ada pertanyaan yang sering datang menculik ketenanganku. Atau pertanyaan lain yang sering mengeritisi rindu di dalam belenggu.

UNTUK KITA


Magma jantungku gemuruh, lava meleleh, jatuh menggoreskan merah pada selaput mata, saat menatap cerita kita yang tak pernah lekang dari lilitan duri yang membelenggu. Ada decak ragu pada gontai langka menelusuri petilasan jejak mimpi yang nyaris suram, tak ada cahaya. Rasanya ingin segerah mengakhiri petualangan ini, berhenti di persimpangan jaln. Biar mereka yang tak henti-hentinya menertawai kita, selalu merasa menang dan paling hebat di jagat ini. Tapi rupanya itu terlalu pengecut buatku.
Lihatlah, kala senja menempel pada bukit” yang tak berpenghuni, ada rona yang terlukiskan pada atap langit, merah membara, dan kadang” lembayung, kemudian menampakan kidung kerinduanku untuk kalian yang ada di ujung pulau. Malam-malamku adalah catatan cinta. Karena cinta pula, kini aku layaknya anak ayam kampung yang telah kehilangan induknya. Dan aku tak pernah mengeluh. Aku masih berpetualang, mengais damai di tanah asing. Aku tidak sedang mengumbar janji, karena inilah saatnya aku yang memikul tongkat pangeran kesatria yang tak lagi setegar dulu.
Mungkin tidak sedikit orang berfikir, semua ini bagai alu pencungkil duri. Tak apa. Aku masih punya lilin fatwa sucimu pahlawanku. Ku pastikan tak akan padam cahaya itu, walau banyak setan yang selalu menggoda, banyak manusia munafik yang ingin meniupnya. Percuma meniup lilin orang lain, tak akan membuat lilinmu bersinar lebih terang. Bicaralah sampai mulutmu berbusa, tak pernah bisa menyurutkan langka ini. Ku anggap itu hanyalah sampa. Mungkin terlalu berlebihan, terlalu emosional, tapi sesungguhnya aku cinta damai, karena hadirku di tanah asing ini hanya ingin menggamit dawai damai. Tidak lebih dari itu. Cukup…aku tak mau bicara lagi soal ini. Lagi pula hari ini hari Tuhan. Nanti dibilang fitnah.
Aku mau merasakan embun pagi, tanpa ada beban yang ingin membelenggu jiwa. Aku mau menulis. Menulis apa saja yang ingin kutulis. Menulis sesuka hati. Karena judulnya pun judul-judulan. Tak mengapa. Dari pada membiarkan waktu berlalu hanya untuk menyapa mereka lewat inboks yang tak kunjung dibalas. Atau dari pada membaca status-status nysar yang hanya akan memperlambat lajunya tulisanku.
Aku selalu ingat, saat kita masih bersama. Terkhusus kau cinta pertamaku. Senyum iklas kepakan kedamaian di bibirmu, membuat aku ingin menjadi boca kecil lagi, biar terus ditimang dalam irama lagu syhadu. Mengingatmu, membuat aku seakan tak sanggup jauh darimu, dari kalian. Namun, rentang waktulah menyadarkanku, bahwa aku sudah terlalu dewasa. Biarlah aku sendiri menyelami lautan harapan dan menjelajahi samudera takdir. Bukan untuk diriku sendiri, bukan juga untuk siapa yang menjadi mitraku nanti, tapi semuanya intuk kita. Suatu saat nanti kubawakan damai dan tawa yang dulu pernah hilang dari genggaman kita karena ujian Sang sutradara kehidupan. Hidup ini srperti baling-baling yang sedang berputar. Tak perlu kita sesalkan apa yang pernah terjadi, tak usah cemas dengan apa yang sedang tetjadi, tak semestinya kita khawatir dengan apa pun yang akan terjadi nanti. Bulan dan matahari tak pernah meninggalkan bumi. Air laut tak pernah meninggalkan pantai. Begitupun Tuhan tak pernah meninggalkan kita. Harap dalam doa, tak perlu cemas. Aku tercipta tidak ingin menjadi manusia pecundang yang hanya tunduk pada imajiner tanpa makna. Apa jadinya, jika hidup ibarat baling-baling yang berputar mengikuti setiap penjuru angin, tanpa bisa bangkit setelah jatuh? Maka, sekali lagi, Kita tak perlu cemas!!!

CINTA TAK SELAMANYA MEMILIKI


c11111111111111Ingatanku masih pagi, saat pertama kali kau memberikan senyuman yang paling manis dari beberapa wanita yang pernah kutemui. Awalnya kita dipertemukan di suatu senja, di sebuah kontrakan yang sudah cukup reot. Plafonnya sudah tak beraturan lagi, bergantungan tanpa ada yang mengurusinya, dinding bercat putih sudah memudar termakan usia. Namun keadaan itu tidak bisa mengusik konsentrasi mata untuk menyaksikan keindahan permata yang tersajikan lewat pancaran sinar dua bola matamu kala itu. Layaknya aku tengah berada di dalam taman, dengan hamparan bunga yang selalu menggoda setiap pengunjung yang datang. Bayangkan, jika kita sedang berada dalam sebuah taman yang penuh dengan berbagai macam bunga yang sedang bermekaran! Walaupun begitu banyak bunga, namun sudah tentuh ada salah satu di antara bunga-bunga yang sedang merekah mempunyai daya pikat yang sangat kuat bagi para penikmat keindahannya. Ciptaan Tuhan yang satu ini memang diidentikan dengan makluk Tuhan yang berhati lunak alias para wanita. Tetapi bukan berarti hanya wanita yang suka dan ingin memetiknya. Laki-laki juga seperti itu, walau tidak semuanya. Kupu-kupu pun seakan bertengkar dan tawuran bila bunga yang diinginkan telah dihinggapi kupu-kupu yang lain, apa lagi manusia. Begitu pun aku yang saat itu asyik menikmati pemandangan di wajahmu. Rasanya ingin segerah memetik hatimu, karena takut ada yang mendahului.
Kau masih malu-malu menampakan tawa, saat salah satu dari sahabatku memberikan tontonan yang mengundang tawa. Lebih tepatnya cerita lucu. Kau tidak serta merta beradaptsi dengan lingkungan yang baru bagi dirimu. Saat itu pula aku merasa bahwa kau adalah orang yang tak mudah tunduk pada setiap godaan yang datang. Dan agar kau tahu, aku mengagumi tipe wanita seperti ini. Aku seakan terhipnotis dengan segala tingka lembutmu kala itu. Kadang, tatapanku tertangkap matamu, saat aku terlalu larut dalam pandangan ke arah wajahmu. Tapi bukan aku sendiri. Kau juga harus mengakui bahwa kau pun begitu. Ya, kita sama-sama merasakan hal yang sama. Aku merasa bahwa musim semi sedang bertandang di hatiku. Bunga-bunga sedang bermekaran, menebarkan aroma yang mampu memanjakan pernafasan. Dan bunga itu adalah kau, gadis bermata bening, wajah bulat, hitam manis, lesung pipi.
Saat sang mentari perlahan-lahan kembali keperaduannya di bawa kaki langit, saat suara malam telah terdengar, jangkrik-jangkrik berdansa ria, mengiringi malam merangkak naik menuju larut. Dan aku terbangun dari kasur empuk yang bernama dunia imajinasi, kemudian sadar bahwa aku masih anak bawang dalam romansa kehidupan, yang diutus ke tanah asing untuk mencari seberkas harapan dan seribu kepastian, menyelami lautan harapan dan mengarungi samudera takdir bersama buku dan pena yang berairkan tinta emas untuk mengukir masa depan. Sepenggal adegan yang barusan terjadi disingkirkan sementara untuk membuka kembali buku pelajaran yang baru diterima dari dosen. Kalkulus menjadi teman bermain di atas meja biru, yang berada di sudut kanan kamar kontarakanku. Bermain dengan pelajaran yang penuh dengan angka ini sedikit menyita perhatian untuk membaca, memahami bahakan memainkan jemari atau sekadar mencoret-coret buraman putih. Aku menemukan rumus logika hati, bahwa di ujung satu tambah satu kita hanya dapat menemukan satu. Sejak hadirmu, saat itu aku menemukannya, menemukan rumus itu. Bahasa sederhananya, “kau dan aku adalah satu”. Apakah kita akan menyatu dan terus bersatu? Tanyaku, serupa monolog, kala itu.
Kau masih saja duduk bersama saudari-saudariku di sebelah kamarku yang kebetulan kamarnya saling berhadapan. Asal kau tahu, matematika memang membutuhkan tingkat perhatian yang tinggi, tapi perhatianku lebih tinggi ke arahmu, dari balik pintu lewat lubang kecil yang mungkin telah disediakan, mungkin saja Tuhan atau setan yang sengaja membocorkan daun pintu itu. Ah, aku tak tahu. Sesekali aku tersenyum sendirian, mungkin dikira gila jika ada yang tidak sengaja melihatnya. Ya, wajar kalau aku sedang berada dalam situasi yang jarang sekali kutemui. Memang ada, tapi tak seindah situasi saat itu. Malam pun telah memeluk larut. Kau bersama sahabatmu yang juga merupakan sahabat dari saudariku, memilih untuk menginap.
Ketika bola api kemerah-merahan kembali bertengger di atas cakrawala ujung timur, menghangatkan penghuni bumi, kau bersama sahabatmu beranjak pergi, dan hanya menitipkan nomor ponsel. Aku masih ingat nomor itu, ekornya 603. Ingatanku memang cukup kuat, apa lagi hanya empat tahun yang lalu. Rasa-rasanya seperti satu detik yang barusan berlalu. Mungkin berlebihan menurutmu, tapi memang kenyataannya kisah ini masih terbungkus rapi dalam kantong ingatanku. Bagamana mungkin kau tidak menitipkan nomor ponselmu, jika laki-laki seperti ku yang memintanya. Terlalu PD ya? Tapi nyatanya begitu kan? Kau tak bisa mengurung niatmu untuk menitipkannya.
Sudah kukatakan, aku khawatir ada yang lebih dulu menancap gasnya dan memboncengi hatimu. Makanya malam itu aku memilih untuk menelponmu lebih dulu. Rumus ampu yang sering kugunakan untuk menaklukan para wanita kuluncurkan. Awalnya memang sulit untuk menggamit dawai hatimu. Hingga malam yang ketiga, kau pun hanyut dalam pelukanku. Singkat cerita kita jadian.
Saat bersamamu, banyak kisah yang kita bingkai bersama, banyak cerita yang kita sulam bersama, sesuai dengan buku harian Sang pebolak balik hati, alias Sang pemilik cinta. Dia-lah yang menjadi sutradara dari peran yang telah kita mainkan. Kita sama-sama saling memberikan inspirasi. Banyak Susah dan senang yang kita lewati bersama. Banyak canda tawa yang kita bagi berdua. Kadang menertawakan hubungan yang kita jalani, kadang menertawakan tingkah kita saat berbagi cerita, kadang terselip beberapa pertengkaran yang membuat kita sama-sama merasa patah dan luruh. Membuatmu menangis layaknya anak kecil yang ingin dicolok permen ke mulutnya, membuatmu membenci dirimu sendiri karena menjadi sebab aku marah. Kadang kita seperti sepasang makhluk Tuhan yang sedang jatuh cinta, kadang juga seperti dua orang yang tidak saling mengenal.
Kau sering memintaku untuk memelukmu saat kita berada di bawa selimut birumu yang tebal. Ingat, aku tak akan menceritakan hal lain, mungkin kau sudah tahu maksudku. Kau sering melarangku jika terlalu lama berhadapan dengan laptop, karena kau takut di hari tua nanti aku yang duluan butah. Membeli susu gemuk untuk menjadi penangkis, karena kau tahu aku sering menghabiskan malam dengan membaca. Menantangku untuk meberikan materi kebidanan walau aku tak tahu ilmu kebidanan. Ya, itu menjadi pengalamanku. Aku harus membaca buku kebidanan terlebih dahulu sebelum menjelaskannya, layaknya seorang guru, dan kau layaknya seorang siswa. Memintaku untuk membuatkan puisi dan membacanya untuk meninabobokanmu. Ketika ada kegiatan keorganisasian, kau selalu ikut denganku, kau selalu berada di sampingku, karena takut aku tergoda oleh wanita lain. Saat tensi forum diskusi mulai meningkat, saat aku tengah ngotot beradu argument atau berdebat, kau sering mengingatkanku dengan mengijak kakiku atau mencubit lenganku. Kau takut jika aku tak bisa mempertahankan lagi argumentku. Kau takut kondisi forum memanas. Kau takut melihat adegan ekstrim yang sering dimainkan dalam setiap forum musyawara. Dan aku sadar bahwa kau mencintaiku.
Kita terus saling mengingatkan satu sama lain bahwa kita harus menjaga kepercayaan orang tua kita untuk merai cita-cita. Dan itu terbukti, kau mampu menyelesaikan kuliah D3 kebidanan dengan mendapatkan peredikat lulus dengan pujian. Berarti jelas bahwa cinta bukan untuk menjadi kita butah, tapi cinta membuat kita mampu menangkap makna positif di dalam sebuah hubungan. Masih banyak lagi yang terlukis di atas kanvas langit kota daeng sebagai saksi bisu dari perjalanan panjang itu. Tiga tahun lebih lamanya kita bersama di kota daeng. Setelah itu kau mendahuluiku untuk pulang ke kampung halamanmu. Hanya janji yang pernah terucap bahwa kita akan terus saling mencintai sampai kita disapa opa dan oma, sampai menutup usia. Kita pernah mengurai janji, bahwa kita akan bersama-sama menceritakan cerita cinta untuk anak cucu kita kelak, bahwa meraka ada karena cinta, bukan karena birahi semata.
Memupuk dan merawat rasa cinta ketika dibatasi dengan dinding jarak memang sangatlah sulit bagi sepasang makhluk Tuhan yang sedang merajut cinta. Rasa kangen setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik terus menumpuk dan kian menyiksa jiwa sepasang nyawa yang sedang berada dalam kecepuk rindu. Dan itu yang kita rasakan, bukan? Lewat telepon seluler kita berusaha untuk membunuh rasa ridu yang membeludak walau sebentar saja. Kau terus memotivasiku dari jauh agar secepatnya menyelesaikan kuliahku. Hingga akhirnya aku mampu menyelesaikannya.
Hal yang paling ibah buatku, saat pangeran kesatriamu dipanggil Tuhan sebelum aku benar-benar mengenal sosoknya. Aku rela tiga minggu lebih tidak masuk kampus, hanya untuk terus berada di sampingmu, hanya karena aku tak mampu membiarkanmu hanyut dalam keterpurukan dan tenggelam dalam hitam. Aku takut kuliahmu berantakan. Kepergian pangeranmu mengajari aku arti ketulusan dan betapa berharganya seoarng Ayah. Membuat aku selalu dan sangat merindukan sosok pangeranku di penghujung senjah yang beranjak menggenggam sang malam. Membuatku seakan terbawa kembali pada peristiwa yang dialami oleh Ayahku kala itu. Membuatku semakin takut kehilangan orang yang aku sayangi. Membuat aku mengerti betapa perihnya ditinggal pergi oleh orang yang sangat berarti dalam hidup. Membuat aku terus memanjatkan syukur pada sang pemilik kehidupan karena masih memberikan nafas untuk kedua orang tuaku. Membuat aku mengenal Tuhan lebih dekat lagi.
Waktu terus berlalu, saat dinding jarak dan sekat waktu menjadi tirai penghalang, satu yang utuh dari dua kepingan itu perlahan-lahan tercecer, berserakan. Dan aku yakin Tuhan hanya memberikan waktu untuk kita saling menginpirasi hingga mencapai cita-cita. Aku tahu cinta tak selamanya meiliki. Aku tidak penah membencimu. Jika kau ingin menghinaku, silahkan kau hina aku, silahkan kau sombongkan dirimu sedikitpun aku tak kan marah, akan kubalas dengan sebuah senyum dan doa atas kekhilafanmu. Cinta itu adalah karunia Ilahi yang suci, dan sayang itu adalah rahasia yang diberikan agar kita saling berbagi. Hidup ini memang penuh masalah, tanpa masalah kita tidak akan pernah bijak dan dewasa. Semoga kau menjadi lebih dewasa setelah mengambil hikma dari perjalanan panjang yang kita tempuh bersama. Itu pun jika kau mampu memetik buah positifnya. Aku do’akanmu dari jauh agar kau selalu diberi kemudahan dalam berkarya demi hidumu dan keluargamu. Ingat, kau masih punya tanggung jawab yang berat, untuk ke4 adikmu. Aku tak punya hak lagi untuk melarangmu, tapi setidaknya aku yang pernah mengisi hidupmu sekadar memberi pesan, fokus kerja itulah yang diharapkan semua keluargamu. Terlebih kakak sulungmu yang ada diperantauan, yang telah membantu membiayai kuliahmu sampai kau sukses. Siapa pun jadi suamimu nanti, hargai dia. Lupakan hal bodoh yang pernah terjadi waktu kita masih bersama demi keharmonisan rumah tangga. Bawalah segudang pesan positif untuk membina bahtera rumah tanggamu di kemudian hari.
Aku tak pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi. Tuhan sudah punya rencana untuk hidup kita masing-masing. Aku banyak mendapat nilai positif selama bersamamu. Kau sering menjadi topik utama dalam setiap tulisanku, di setiap jedah waktu. Sejak bersamamu, aku merasa menjadi manusia yang kreatif menurut versiku, menjadi manusia pemberani menurt gayaku, berani dalam menyelesaikan suatu persoalan di dunia yang pelik ini.
Aku tahu, bahwa cinta adalah energi. Dalam ilmu fisika energi bersifat kekal. Jika cinta adalah energi, maka cinta hanya berubah menjadi samudera iklas setelah kata “MELEPASKAN” menjadi keniscayaan atas cinta. Mencintai adalah mengenal Dia. Mengenal makna di balik takdir-Nya. Mengenal simiotika dan gejolak kehidupan. Mengenal setiap rasa dan logika yang dititipkan pada diri kita. Bukankah mengenal dan mendekatkan diri pada-Nya adalah hakikat hidup itu sendiri? Cinta itu rahasia Tuhan Sekuat apa kita mencintai, selama apa kita setia, sebesar apa kita bersabar, jika tinta takdir tidak menggoreskan apa yang menjadi harapan kita, maka semuanya tak akan terwujud. Tuhan merangkai hidup ini tak seindah yang kita dambakan, tapi tak seburuk yang kita cemaskan. Menuntun kita untuk selalu memahami segalah maksud dan rencana-Nya.
Terima kasih atas segalanya yang pernah kau berikan hingga aku memahami hakikat hidup itu sendiri, membantuku memahami kakikat cinta itu sendiri. Jika Tuhan mempertemukan kita kembali di kemudian hari, maka tidak ada kata untuk menolaknya. Jika tidak, pasti kita akan bertemu di dunia berikud, stelah kita meninggalkan dunia kita sekarang. Sekali lagi, terima kasih untukmu yang pernah menghiasi hidupku. Terima kasih mantan kekasihku***